Friday, September 4, 2015

Dari Malang Pergi ke Inggris


Dr. Gamal Albinsaid (24) adalah salah satu dari sekian banyak dokter di Indonesia yang rela mencurahkan waktunya untuk mengabdi pada masyarakat umum. Dengan proyek yang digagasnya yaitu Indonesia Medika, Gamal mengembangkan sebuah konsep berobat dengan sistem asuransi sampah.Warga yang mengantri berobat sambil membawa sampahUntuk mewujudkan konsepnya tersebut, Gamal bahkan rela dibayar dengan sampah dan melalui kliniknya yang tersebar di 5 lokasi di Malang, masyarakat umum bisa menikmati layanan kesehatan hanya dengan menggunakan sampah sebagai alat pembayarannya. Sampah yang digunakantersebut harus sampah non organik seperti plastik, kaleng hingga kardus yang dihargai Rp 10 ribu oleh klinik Dr. Gamal.Dengan sampah senilai Rp 10 ribu tersebut, warga sudah berhak mendapat layanan kesehatan melalui asuransi sampah yang dibinanya. Kini, jumlah anggota dari asuransi tersebut sudah mencapai 500 warga tak mampu.Indonesia Medika“Selama ini, kalau sakit dan karena miskin mereka pinjam (uang) kesana-sini, kalau enggak punya uang hanya menahan sakit di rumah,” ujar Gamal. “Praktisnya, saya minta masyarakat menyerahkan sampah sejumlah Rp 10 ribu dan dikembalikan sebagai asuransi kesehatan padalayanan primer.” Indonesia Medika mulai terbentuk tahun 2010, dan sempat terhenti setelah berjalan selama enam bulan. Namun setelah Maret 2013, proyek ini kembali diaktifkan dengan sasaran utamanya warga tidak mampu.Dalam menjalankan Indonesia Medika tersebut, Gamal tidak sendirian karena ada 47 anak muda dari seluruh Indonesia yang sudah bergabung dan dari jumlah tersebut, 17 orang diantaranya sudahberstatus tenaga tetap. Mereka ini mendapat bayaran dari Indonesia Medika dengan sistim bagi hasil, sedangkan yang lainnya merupakan tenaga sukarelawan.Untuk operasionalnya sendiri, Gamal mengaku mendapat dukungan daribeberapa perusahaan dan organisasi internasional, seperti AusAID (Australian Agency for International Development), Ashoka, Socentix, hingga LGT Venture Philanthropy. Selain dari itu, Indonesia Medika juga mencari dana dengan penjualan merchandise.Karena kegigihannya dengan menerapkan konsep berobat dengan asuransi sampah itu, pada 30 Januari 2014, Gamal diundang ke London, Inggris, untuk menghadiri jamuan makan malam dengan Prince of Wales sekaligus mendapatkan penghargaan “The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur” yang diberikan langsung oleh Pangeran Charles sang pewaris tahta kerajaan Inggris.
Dr Gamal dan Pangeran CharlesPenghargaan tersebut diberikan sebagai apresiasi untuk peran pemuda usia dibawah 30tahun dalam mengatasi isu lingkungan, sosial dan kesehfatan. Dalam kesempatan tersebut, Gamal berhasil menyisihkan 511 wirausaha peserta dari 90 negara.

Monday, August 31, 2015

sang penemu 4G LTE





Divisi Jakarta - Di negara-negara maju, teknologi Long Term Evolution (LTE) sudah bisa dicicipi sejak lama. Sedangkan Indonesia, baru menggelarnya di tahun 2014. Itu pun ketersediaannya belum meluas. Meski demikian, adanya jaringan generasi keempat ini memunculkan harapan koneksi internet lebih cepat.

Terlepas dari itu, kita patut bangga karena di balik teknologi 4G LTE, penemunya orang Indonesia. Adalah Dr. Eng. Khoirul Anwar, penemu sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis OFDM (Orthogonal Frequency ion Multiplexing).

Kelahiran Kediri 1978 ini menciptakan sebuah teknologi transmitter yang saat ini lebih dikenal dunia dengan sebutan teknologi 4G. Teknologi broadband ini menjadi standard internasional ITU, baik untuk sistem teresterial (di bumi) maupun satelit (di luar angkasa).

Ingin Jadi 'The Next Einstein'

Sejak kecil, Khoirul punya minat tinggi terhadap sains. Hampir semua buku-buku sains dilahapnya. Di sela-sela waktu belajarnya, Khoirul kecil sangat suka membaca buku teori ilmuwan ternama seperti Albert Einstein dan Michael Faraday, bahan bacaan yang terbilang 'berat' bagi anak sesusianya. Putra pasangan suami istri Sudjiarto dan Siti Patmi ini bermimpi tinggi ingin menjadi the next Einstein dan Faraday yang bisa menciptakan teori baru.

Cita-cita luhurnya nyaris gagal karena terbentur sulitnya keadaan. Pada 1990, ayah Khoirul meninggal dunia ketika dirinya baru lulus sekolah dasar. Namun tekadnya justru semakin kuat untuk sekolah setinggi-tingginya. Saat bersekolah di SMAN 2 Kediri, Khoirul berusaha keras menghemat pengeluaran agar ibunya tak terbebani.

Dia sempat jatuh sakit karena terlalu irit makan. Prestasinya di sekolah pun menurun. Namun semua jerih payah itu terbayar ketika pada akhirnya dia lulus Teknik Elektro (Telekomunikasi) dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia lulus pada 2000 sebagai salah satu wisudawan terbaik